Grogi, Kiemas Sering Salah

Posted on

sby-bodiono-sumpahLaporan JPNN, Jakarta

21 Oktober 2009
Ketua MPR Taufiq Kiemas menjadi sorotan. Dalam memimpin sidang paripurna MPR dengan agenda pelantikan Presiden dan Wakil Presiden, suami Megawati Soekarnoputri itu penuh kesalahan.

Ketika menyebut daftar tamu kehormatan, misalnya. Kiemas tidak menyebut mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan mantan Presiden BJ Habibie. Dia melewatkan dua tamu kehormatan yang hadir dalam ruang sidang paripurna MPR itu.

“Mohon maaf, terlewat. Yang terhormat Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Presiden ketiga Indonesia BJ Habibie,” katanya dengan agak terbata-bata sambil membolak-balik teks yang ada di depannya.

SBY tetap tenang dan belum bereaksi. Habibie yang duduk di balkon atas hanya tersenyum simpul seperti memaafkan kesalahan kecil Kiemas itu. Begitu pula JK.
Tapi, kesalahan itu hanya “pembukaan”. Setelah lupa menyebut dua tokoh itu, Kiemas bolak-balik membuat kesalahan. Ketika menyebut pemimpin dan utusan negara sahabat, dengan gagap dan patah-patah Kiemas menyebut mereka satu per satu. Saat menyebut perwakilan pemerintah Srilanka, huruf W dia baca, “W double.” Perwakilan Pemerintah Srilanka pun berdiri dengan wajah merengut.

Sejumlah pemimpin negara sahabat memang hadir. Antara lain Perdana Menteri Australia Kevin Rudd, Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak, Presiden Republik Demokratik Timor Leste Jose Ramos Horta, dan Sultan Brunei Hassanal Bolkiah.

Nah, di sinilah Presiden SBY mulai merasa tidak nyaman. Duduk di kursi sisi selatan dari Kiemas, alis berkernyit. Pandangannya tak bisa menatap lurus ke hadirin karena bolak-balik menoleh kepada Kiemas yang tak juga tepat membaca nama-nama perwakilan negara sahabat itu.

Pelafalan Kiemas pada gelar dan kata sapaan pun tak terlalu bagus. Kiemas menyebut mister dengan gaya Jawa menjadi mester dan doktor menjadi dokter. Saat memanggil SBY untuk menandatangani berita acara pelantikan, ayah Puan Maharani itu keseleo lidah. “Susilo dokter Bambang Yudhoyono,” katanya. SBY kembali menoleh kepada Kiemas.

Kesalahan berkali-kali itu mulai dihapal oleh sejumlah peserta sidang. Sejumlah menteri seperti Mendagri Mardiyanto, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, dan beberapa menteri lainnya terlihat saling bisik kemudian tertawa. Mereka seperti menunggu Kiemas untuk berbuat salah lagi. Dan memang, Kiemas melakukannya lagi.

Ketika membaca sambutan setelah penandatanganan berita acara pelantikan, Kiemas menyampaikan sambutannya. Dia menyebutkan presiden dan wakil presiden Indonesia selanjutnya adalah SBY dan Boediono. Namun, kembali saat menyebut SBY, dia bilang, “Susilo dokter Bambang Yudhoyono.” Tapi, kalimat belum selesai. Kiemas terhenti selama beberapa detik sambil membolak-balik kertas kemudian berkata, “Selama lima tahun.” Terhenti lama, dia kemudian menyebut, “Dan Profesor Boediono sebagai wakil presiden…selama lima tahun.”

Pertunjukan berikutnya lebih fatal lagi. Dalam pidato penutup sidang tersebut, tiba-tiba saja Kiemas berkata seperti hendak mengakhiri sidang, “Demikian…,(diam).” Rupanya halaman teks yang dibalik politisi bertubuh subur itu terlalu banyak. Satu halaman terselip.

“Ee.., kepada bapak Muhammad Jusuf Kalla, kami menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya atas segala yang telah dilakukan selama ini,” tuturnya. Kali ini, suara gemuruh tawa yang tertahan mulai terdengar di dalam gedung.

Dikonfirmasi seusai sidang paripurna, Kiemas menjelaskan bahwa dirinya tidak terbiasa menyebut nama lengkap Presiden SBY beserta titelnya. “Menyebut nama asli agak-agak susah. Biasanya kan Pak SBY,” katanya. Suami Megawati itu merasa kesalahan yang dilakukannya sangat manusiawi. Termasuk saat kebablasan membuka halaman, sehingga nama penting, seperti Jusuf Kalla sampai terlewatkan.

“Manusiawi lah. Nomor halamannya kecil di bawah,” kata Kiemas yang mengaku sebelumnya sudah sempat latihan membaca teks pidato tersebut.

Sekretaris FPDIP di MPR Ganjar Pranowo mengatakan mereka sebenarnya sudah meminta Sekjen MPR agar tidak terlalu banyak pidato panjang. Sebab, sidang paripurna tersebut hanya seremoni pelantikan saja. “Karena orang baru yang juga baru sekali dua kali memimpin jangan-jangan masih grogi,” candanya.

Ganjar mengakui, ke depan, memang tidak boleh sampai terjadi lagi banyak kesalahan seperti itu. Tapi, sejauh ini, dia meyakini, peristiwa “salah baca” tersebut tidak sampai mengurangi kewibawaan MPR.

Ketua Fraksi Partai Demokrat (FPD) Anas Urbaningrum menyindir “penampilan buruk” Taufiq Kiemas itu. Dia mengatakan, Kiemas mungkin ingin memberi kesan khusus dalam sidang paripurna pelantikan SBY-Boediono.

“Suasana lebih cair, sedikit lebih santai. Ada kesempatan untuk senyum dan ketawa kecil. Jadi, menyegarkan,” kata Anas.

Komentar yang lebih pedas datang dari Wakil Ketua DPD Laode Ida. Menurut dia, kekeliruan yang dilakukan secara berulang oleh Taufik Kiemas itu telah membuat kewibawaan MPR menjadi berkurang. “Kesakralan pelantikan Presiden dan Wapres semakin rendah,” ujar senator dari Sulawesi Tenggara itu.

Sementara itu, kesalahan yang terjadi dalam sidang paripurna pelantikan Presiden menunjukkan kurangnya persiapan dari MPR. Aktivis Sinergi Masyarakat untuk Demokrasi (Sigma) Said Salahuddin menyatakan, sidang paripurna tersebut disaksikan dunia internasional. Hal itu bisa memberikan catatan negatif kepada yang melihatnya.

“Dunia akan menganggap Indonesia tidak cakap dalam mengelola sebuah sidang,” kata Said.
Seharusnya MPR bisa melakukan persiapan matang. Sebab, sejumlah kepala negara juga ikut hadir di pelantikan itu.

Said mencatat, kesalahan-kesalahan kecil yang cukup mengganggu adalah penyampaian pidato Ketua MPR, Taufiq Kiemas. Politisi PDIP itu pada DPR periode sebelumnya dikenal sebagai anggota DPR yang kerap membolos.

“Ketua MPR salah mengucapkan nama Susilo Bambang Yudhoyono dan terlihat kurang tepat menyebut nama kepala negara lain,” ujarnya.

Ironisnya, kata Said, kesalahan kecil itu malah ditanggapi dengan riuh rendah suara anggota MPR lainnya. Terdengar dari siaran TV bahwa para anggota MPR terkesan berbicara sendiri, mengomentari kesalahan Taufiq. “Itu menunjukkan lemahnya kita saat mengelola sebuah sidang,” kata Said. Seharusnya, kata dia, sidang harus dipersiapkan dengan baik, termasuk pemahaman tata tertib yang harus dipatuhi peserta sidang.

Mengenai kesalahan penyebutan nama oleh Taufiq, Said menilai, hal itu menunjukkan bahwa politikus tua harus diganti secara bertahap oleh politikus muda. “Kesalahan itu masih terjadi, padahal Ketua MPR memegang teks, bagaimana jika berbicara tanpa teks di sebuah forum internasional,” ujarnya.

Dalam pidato pertamanya usai dilantik, SBY menyampaikan terima kasih kepada pendampingnya dalam periode sebelumnya, Jusuf Kalla, dan para menteri yang telah membantu. Kata SBY, JK telah memberi bangsa dan negara pengabdian yang membanggakan.

“Pengabdiannya akan tercatat abadi dalam sejarah perjalanan bangsa,” katanya.

Dia juga memuji perkembangan demokrasi di Indonesia. Menurut dia, demokrasi Indonesia makin kuat, stabil, dan dewasa. Kendati tensi persaingan politik sangat tinggi, Pemilu berlangsung aman. Secara khusus, SBY menyampaikan rasa hormatnya kepada para rival dalam Pilpres.

“Saya ingin menyampaikan rasa hormat kepada Ibu Megawati Soekarnoputri, Bapak Prabowo Subianto, Bapak Jusuf Kalla dan Bapak Wiranto atas partisipasi aktif dan kegigihan beliau dalam Pemilu,” kata SBY.

SBY juga berbicara soal pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurut dia, peran Indonesia di dunia internasional semakin kuat. Indonesia sendiri disebut remarkable Indonesia karena kemampuannya bertahan dalam krisis global. “Indonesia diprediksi pertumbuhan ekonominya nomor tiga di dunia,” katanya.

SBY juga berjanji akan terus menyejahterahkan rakyat dan memberantas korupsi. “Ke depan dengan semangat Indonesia kita bisa menjaga ekonomi Indonsia dengan good governance, pemberantasan korupsi, dan pengurangan kemiskinan untuk meningkatkan kesejahteraan,” katanya.

Gubri: Riau Harus Mendapat Perhatian Khusus

Di bagian lain, Gubernur Riau HM Rusli Zainal mengungkapkan hara­pannya dan juga keinginan seluruh lapisan masyarakat Riau kepada Presiden dan Wakil Presiden SBY-Boediono yang baru saja dilantik untuk lebih memperhatikan Negeri Lancang Kuning tersebut. Sehingga apa yang menjadi keperluan dan keperluan Riau dalam menyejahterakan masyarakatnya bisa terwujud. Masyarakat sangat berharap ada keterwakilan Riau di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) jilid II ini, namun sampai saat ini belum ada muncul nama-nama yang dihar­apkan oleh Riau.

“Masyarakat sangat mengharapkan perhatian dari pemerintah pusat ke depan dalam membangun Riau, sehingga kesejahteraan masyarakat bisa terwujud. Tadinya masyarakat Riau sungguh-sungguh sangat berharap kepada pemerintahan pasangan SBY-Boediono seti­daknya ada perwakilan dari Riau untuk duduk di Kabinet, tetapi harapan itu sampai saat ini belum bisa direalisasikan” ujar Gubri kepada Riau Pos usai menghadiri acara pelantikan di Gedung MPR/DPR RI, kemarin.

Namun walaupun demikian, saat ini ada salah satu nama yang ternyata lahir dan pernah tinggal di Riau yang menjadi calon menteri yakni Darwin Zahedy Saleh. Keberadaanya diharapkan bisa memberikan pengaruh yang positif terhadap pembangunan Riau dengan adanya hubungan emosional kedaerahan tersebut.

“Nama yang disebut-sebut sebagai calon kuat pada posisi Menteri ESDM tersebut, tadi saya sudah bertemu dan telah membangun komunikasi dengannya,’’ ujarnya.

Selanjutnya, lanjut Gubri, hubungan ini akan dilanjut­kan lebih intens lagi ke depan dalam membicarakan tentang Riau. Karena dia merupakan putra asal Provinsi Riau yang berada di Sapat, Kecamatan Kuala Indragiri, Indragiri Hilir. Sehingga dengan hubungan emosional kedaerahan ini setidak-tidaknya ada perhatian terhadap Riau.

“Kita berharap dengan beliau mudah-mudahan dengan mempunyai emosinal dengan Riau tentu sedidak-tidaknya ada perhatian yang diberikan kepada daerah sebagai tempat lahirnya. Terutama terhadap masalah-masalah yang terjadi di Provinsi Riau saat ini, masalah energi terutama yang berkaitan dengan kelistrikan. Karena memang beliau yang menangani persoalan itu ketika nanti ditetapkan menjadi Menteri ESDM,’’ ujar Gubri.

Ketika disinggung mengenai apakah dirinya tidak tertarik berada di kabinet, Gubri hanya mengatakan bahwa saat ini tugasnya akan fokus pada jabatan Gubernur Riau. “Saya di duduk sebagai gubernur saja la,’’ ujarnya singkatnya.(aga/pri/bay/jpnn/yud/fia)

3 thoughts on “Grogi, Kiemas Sering Salah

    vika flarina said:
    21/10/2009 at 15:08

    pasti grogilah kan kemarin-kemarin jarang sekali ikut rapat ke dpr..

    Jual Rumah said:
    21/10/2009 at 16:32

    wah wah wah…
    saya sudah tidak aneh dengan gelagat taufik kiemas yang selalu gugup.
    bahkan saya pernah bertemu langsung dengan beliau dimana ketiuka beliau mengunjungu salah satu perusaaan tempat saya bekerja dulu
    tepatnya di PT.WGI, dimana beliau berkesempatan memberikan sedikit komentar serta pendapatnya ketika mengunjungi perusahaan kami…

    jangankan untuk membawakan dan memimpin acara resmi, membawakan atau berkomentar untuk acara yang tidak resmipun beliau terlihat kikuk.
    semoga saja rasa gerogi ini tidak menjadi batu penghalang untuk memajukan bangsa kita.
    semoga saja bapak TK bisa lebih baik dan lebih tegas lagi dalam memimpin atau memumtuskan suatu hal

    Rumah Murah

    Kartika Mayang Sari said:
    23/10/2009 at 08:48

    Wah info menarik yah
    Setahu saya memang TK seperti itu
    Semoga saja Bpk TK bs menjadi lebih baik yah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s